Suatu hari seorang pemuda yang berguru pada seorang koki yang jago masak sekampung, memiliki keinginan untuk bercocok tanam padi. Maklum saja pemuda ini tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke sawah walaupun ia sendiri berasal dari daerah yang mata pencaharian penduduknya adalah menanam padi. Karena ia terlalu sibuk untuk menimba dan mendalami ilmu memasak. Ia berguru pada seorang Koki yang juga mendirikan sebuah kursus yang lumayan termasyhur di seluruh negeri. Kampung ini bernama Lazaat, yang memiliki beraneka ragam buah-buahan dan sayur-sayuran yang segar-segar dan dikenal dengan kesuburan tanahnya.
Atas saran gurunya, ia belajar bercocok tanam pada masyarakat kampung yang telah terbiasa untuk menanam padi. Pemuda ini sebenarnya sedikit ceroboh dalam melakukan sesuatu dan ia juga sudah terlambat untuk belajar dari awal karena penduduk kampung sudah masuk ke tahap penanaman padi di lahan persawahan, sehingga ia melewatkan belajar untuk menanam benih padi dari gabah.
Tetapi itu tidak menyurutkan semangat belajar si pemuda dan terkadang dengan semangatnya yang tinggi dapat menutupi kecerobohannya. Hari pertama, pemuda ini datang terlambat sehingga menimbulkan pandangan yang tidak baik dari penduduk. Pemuda itu menyadari hal ini, dan bertekad dapat membayar kesalahannya dengan melakukan yang maksimal di hari pertamanya itu. Pada awalnya memang sangat sulit, dan sedikit minder bila dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain yang sebaya atau lebih tua darinya yang sangat lihai dalam meletakkan benih-benih padi dalam tanah gembur. Pemuda ini terus berusaha untuk mengikuti pemuda-pemuda lainnya, berupaya benih yang ditancapkan tegak berdiri dan tidak mengembang serta mengatur jarak antar benih padi tetap berselisih sejengkal atau 15 cm. usaha si pemuda baru menunjukkan hasil setelah matahari lewat sepelanggahan atau masuk waktu dhuhur.
Setelah istirahat sejenak dan minum beberapa teguk air, sebagian pemuda melanjutkan kembali aktivitas menanam padi dan ada juga pemuda yang beristirahat lebih lama. Melihat ada sebagian pemuda yang turun, membuat Pemuda tadi ikut turun memanfaatkan semangat yang masih tertanam dalam dirinya. Tak lama setelah mereka turun kembali ke sawah, sampai pula bekal untuk makan siang yang dibawa oleh beberapa gadis kampung. Hal ini telah menjadi tradisi desa ini bagi wanita untuk menyediakan makanan bagi pria-pria yang sedang turun ke ladang yang masih memiliki ikatan persaudaraan atau hanya sebagai tetangga.
Melihat ada makanan yang datang, tentu saja pemuda-pemuda ini bergegas untuk mengambilnya tidak terkecuali pemuda-pemuda yang terlanjur turun ke sawah.
Dan sudah menjadi kebiasaan juga bagi pria kalau tidak bergurau atau bercanda satu sama lain. Pemuda tadi tentu saja malu untuk bercanda terhadap lawan jenis apalagi tidak memiliki ikatan persaudaraan dan baru pertama kali berada di lingkungan itu. Walaupun demikian, pemuda ini terkadang kerap melepas senyuman supaya tidak kaku terhadap orang sekitarnya.
Disaat itu pula, sang pemuda melihat seorang wanita yang tidak banyak bercakap, santun dengan pakaian biasa saja tapi terlihat rapi membungkus tubuhnya dan sedikit bicaranya. Ketika itu, pemuda itu hanya melihatnya biasa seperti ia melihat wanita lain yang memiliki tipe seperti wanita tadi, walaupun memang paras wanita ini sedikit lebih rupawan dari wanita lainnya.
Setelah menyantap makanan, seluruh pria tadi bergegas untuk menunaikan ibadah shalat dhuhur dan kembali untuk menyelesaikan target menanam benih untuk 2 petak sawah hari itu.
Waktu ashar pun telah tiba. Pemuda tadi yang terlihat mulai lelah dan kelihatan lebih lelah bila dibandingkan pemuda lainnya. Maklum, pemuda ini mencurahkan seluruh tenaganya untuk belajar semahir pemuda lainnya. Dan hasilnya mulai terlihat setelah beberapa saat kumandang azan ashar terdengar. Benih padi yang sangat rapi pada beberapa bagian di petak sawah yang kedua merupakan buah kerja dari pemuda tadi, walaupun masih lambat dibandingkan pemuda lainnya.
Hari kedua, pemuda ini datang lebih cepat agar lebih akrab dengan pemuda lainnya. Dan waktu terus berjalan, dan siangpun tiba. Sang pemuda pun melihat wanita pendiam yang kemarin ia lihat. Kali ini, tumbuh rasa tertarik pemuda ini kepada wanita itu. Pandangan yang selalu ke bawah dan tidak mudah bicara dengan orang lain apalagi dengan lawan jenis yang membuat pemuda tadi jatuh hati.
Ketika itu pula, wanita-wanita lain berbisik-bisik menanyakan siapa gerangan pria yang terlihat asing tersebut sedari kemarin hanya senyum-senyum saja dan juga kurang banyak berbicara.
Setelah menyantap makanan dengan lahap, sang pemuda kembali pada kegiatannya dan wanita bersiap-siap untuk bergegas pulang. Namun, beberapa saat sebelum meninggalkan persawahan, wanita-wanita ini sontak tertawa keras. Rupanya sang pemuda jatuh terduduk dalam sawah karena terpeleset menginjak tanah yang licin. Sebenarnya ia dapat menghindari tanah tersebut, karena ia berjalan dibelakang seorang pemuda yang melangkahi tanah licin tersebut. Entah sebab apa si pemuda bisa terpeleset, mungkin saja masih terbayang-bayang wanita tadi hingga tanah licinpun tidak terlihat, yang menunjukkan bahwa pemuda ini memang sedikit ceroboh.
Dengan posisi terduduk di dalam sawah, membuat pakaian sang pemuda terutama bagian bawah telah basah kuyup dengan lumpur. Tetapi pemuda ini, tetap tersenyum lebar saja. Apalagi setelah melihat wanita pujaannya ikut tersenyum dan saat itu ia baru melihat senyuman wanita yang dari kemarin selalu diam dan kalem itu.
Sang pemuda enggan mengungkapkan isi hatinya karena ia pun bukan pria yang mudah mengungkapkan perasaannya. Hari berganti hari hingga seluruh sawah yang menjadi tugasnya telah terisi oleh benih padi dan menunggu hingga padi bisa dipanen. Bulan berganti bulan, tetapi sang pria masih tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya.
Hingga suatu hari, sang pria pun memberanikan diri untuk mengirimkan surat kepada wanita ini. Pemuda ini tidak menitipkan surat ini kepada orang lain, tetapi ia sisipkan di pohonan pisang diperkarangan rumah wanita tersebut. Pemuda ini nekat melakukannya, karena ia sering melihat wanita ini memotong daun pisang sebagai bahan membalut kue nagasari yang biasa ia bawa sebagai bekal. Dalam benak si pemuda berharap wanita pujaannya dapat segera mengambilnya. Apa yang pemuda ini tuliskan?
Berikut isi surat sang pemuda kepada wanita pujaannya:
Assalamu’alaikum…
Sebelumnya, abang minta maaf kalau mengganggu kesibukan adek. Baru kali ini abang beranikan diri untuk bercakap langsung sama adek melalui pesan ini. Sebenarnya abang bukan tipe yang mudah untuk mengungkapkan sesuatu kepada orang lain. Baik itu sesuatu yang sedih maupun yang senang. Kalo saja dihampiri dua hal ini.. Senang ya senyum aj. Kalau sedih ya dipendam saja..hehee
Tapi entah kenapa, ketika melihat sosok adek dari jauh atau sekilas mata, ada rasa kagum dengan pakaian yang rapi yang adek kenakan seolah-olah mencerminkan seorang wanita yang selalu menjaga diri, agar tidak menarik nafsu lelaki dan terus terang saja punya paras yang rupawan. Selain itu, bicara yang sedikit menunjukkan ketawadhu’an.
Itu penilaian abang, sehingga abang beranikan diri.. tapi yang sebenarnya, abang jelas tidak tau..
Abang pun tau dari gerak-gerik adek, klo ada rasa kagum pada abg. Tapi entahlah, mungkin itu hanya perasaan saja. Mungkin ini unek-unek yang bisa abg ungkapkan, supaya lega batin ini. Mohon maaf sekali lagi telah mennyita waktunya. Trims :).
Waalaikum salam
Bagaimanakah kelanjutan ceritanya. Apakah surat si pemuda sampai ke tujuan atau malah tersangkut di pohon pisang atau dibawa oleh kelelawar atau diambil oleh Pak Kechiek Kampung Laazat. Atau mungkin saja bernasib sama seperti bungkusan daun pisang yang dijual di warung-warung pasar kampung lazaat sebagai bungkusan lontong atau mie ….. heheeheheheeee...
To be continued…..*Saksikan kelanjutannya di edisi berikutnya.
No comments:
Post a Comment