Pages

Sunday, 3 July 2011

Budaya geutanyoe

Bahasa Daerah Semestinya Kita Lestarikan
            Kon salah Cangguek jiduek lam paya
            Kon salah rangkang bubong ka tireih
            Kon salah aneuk han jitueng budaya
            Salah awak mat aturan akai jih paleh
(Zulfadli Kawom, Serambi Indonesia 29 Mei 2011, dan penulis ganti beberapa kata yang dianggap mengena)

Bergerak dari syair di atas  bahwa keadaan masyarakat aceh sekarang ini telah meninggalkan beberapa identitas aslinya sehingga menyebabkan hilangnya jati diri masyarakat aceh itu sendiri. Diantaranya yaitu penggunaan bahasa aceh yang semakin hari semakin merosot saja. Banyak faktor yang membuat hal ini bisa terjadi diantaranya, laju masuk budaya asing yang sangat besar, tidak adanya kegiatan rutin yang mencirikan masyarakat aceh di perkotaan, penggunaan bahasa aceh yang sangat minim di dunia pendidikan aceh dan bahkan dalam keluarga-keluarga masyarakat aceh dewasa ini. Pemerintah aceh yang menjadi pengatur daerah paling ujung sumatera ini memiliki peranan yang besar untuk dapat mengubah hal ini seperti yang terdapat pada bait terakhir sajak diatas. Penulis sendiri tidak dapat memberikan konstribusi apapun dalam Pemerintahan Aceh sendiri, namun melihat keadaan Aceh sekarang ini yang sudah sangat kronis, seharusnya pemerintah tidak bisa berdiam diri lagi. Pemerintah harus berfikir bagaimana mengakali besarnya laju alir budaya asing sehingga budaya asli aceh tetap kokoh berdiri di daerahnya sendiri, mengusahakan beberapa kegiatan yang menumbuhkan kecintaan budaya aceh di perkotaan, memasukkan bahasa aceh sebagai bahasa kedua dalam dunia pendidikan aceh (sebenarnya sudah membuat terluka orang aceh, mengapa harus dinomor duakan, tapi paling tidak ini bisa menghilangkan ketakutan untuk berbahasa aceh pada kalangan anak-anak di sekolah).

Sebagai masyarakat biasa, dapat kita lihat beberapa hal yang membuat keadaan budaya aceh bisa ambruk begini rupa. Keprihatinan yang mendalam ketika melihat keluarga-keluarga di perkotaan dan keluarga-keluarga muda baik di perkotaan dan di pedesaan tidak menggunakan lagi bahasa aceh sebagai bahasa sehari-hari. Banyak alasan yang dimunculkan, beberapa alasan utama diantaranya yaitu malu menggunakan bahasa aceh karena dianggap kuno (meugampong), tidak berpendidikan, dan terlihat kasar (khususnya kalangan wanita, malu menggunakannya karena hilang ke-ayu-annya, hehehe) atau sebab lainnya, bagi anak-anak akan kesulitan untuk bisa beradaptasi di lingkungan sekolah karena bahasa aceh bukan bahasa pengantar yang digunakan di sekolah (sebenarnya ada penggunaan bahasa aceh dalam dunia pendidikan seperti pesantren-pesantren tradisioanal yang disebut juga dengan dayah, tapi sangat sedikit peminat terhadap pendidikan seperti ini dan juga sangat kecil perhatian dari pemerintah).
            Disinilah dibutuhkan antena yang panyang, jangan pakek yang second terus… hehehehee
Mau bahasa aceh punah suatu saat nanti?
Dimana letak jatidiri orang aceh?
            Teringat penulis dulu, waktu jaman Siti Nurbaya dulu (ntah iya pun). Kebanyakan orang sangat janggal menggunakan pakaian yang ketat-ketat terutama bagi wanita, merasa sangat risih bila dipandang-pandang terus, berbeda dengan keadaan sekarang ini. sebaliknya dengan orang yang memakai kain sarung yang sangat nge-trend di ketika itu, tetapi terkesan kuno ketika kita lihat sekarang ini. menurut penulis semua itu adalah KEBIASAAN. Coba saja, masyarakat kita ini membiasakan pakai sarung ketika pergi ke pasar atau kemana saja, pasti tidak dianggap rancu karena sudah dibiasakan. Begitu juga dengan penggunaan bahasa, membiasakan tidak menggunakan bahasa aceh, maka akan menjadi sangat rancu di masa akan datang penggunaan bahasa aceh.
            Penulis juga membuktikan ini di berbagai belahan dunia ini (seehhh, angkuh sikit). Ketika menonton sebuah film dari negara Thailand kebetulan temanya percintaan, hehehee. Kesan pertama yang muncul adalah jelek sekali bahasa Thailand ini walaupun yang bercakap-cakap adalah aktris utamanya (aktrisnya lumayan cantik lho, xixixi). Kemudian terpikir oleh kepala ini, mengapa bisa tetap dipakai ya bahasa sejelek ini (maaf ne agak rasis), dan mengapa bahasa aceh yang 100x lebih indah dari bahasa Thailand (menurut penulis), sebagian orang malu menggunakannya. Tidak lain karena tidak dibiasakan penggunaannya di tempat-tempat umum (ini bisa juga saran untuk pemerintah Aceh, misalnya tulisan-tulisan di tempat umum sebaiknya menggunakan bahasa Inggris, Indonesia dan Aceh). Jepang salah satu negara maju dan memiliki kekuatan teknologi yang besar juga tidak pernah hilang jati dirinya. Terkenal dengan merek dagang seperti Honda, Suzuki, Yamaha, Nissan dan lain-lain, toh tetap negara ini dikenal dengan negara samurai dengan kimononya, karena negara ini memiliki peradaban dunia dan masyarakat yang begitu tinggi sehingga dikenal dengan jepang sekarang ini. Bahasa mereka pun tidak berbeda jauh antara satu daerah dengan daerah lainnya dalam satu kawasan, hanya berbeda aksen saja. Bisa dikatakan negara ini memiliki mobilisasi masyarakatnya yang aktif yang membuat Jepang, satu suku dalam satu negara.
            Melihat ke dalam kesatuan negara Indonesia, kita juga dapat melihat beberapa suku yang masih terletak di Sumatera seperti Padang dan Palembang. Mereka sangat bangga menggunakan bahasa daerah mereka dimanapun mereka berada. Posisi bahasa mereka sama seperti bahasa Aceh juga yang tidak memiliki huruf atau penulisan yang baku seperti negara-negara Jepang, India, Thailand, dll. Tapi kedua daerah ini tetap bangga dengan bahasa mereka.
            Bahasa Inggris, Mandarin (Cantonis), Arab, India, Spanyol berturut-turut merupakan bahasa global yang paling banyak digunakan di dunia. Tidak mengherankan bahasa-bahasa ini begitu mendunia karena memang negara-negaranya memiliki catatan sejarah peradaban yang fenomenal dan dikenal begitu banyak tokoh yang berpengaruh terhadap peradaban itu sendiri. Nah, timbul pertanyaan lain, apakah masyarakat aceh tidak punya sejarah peradaban atau tidak punya tokoh seperti itu?.. tentu saja ada, Sultan Iskandar Muda yang merupakan pemimpin sebuah negara islam yang begitu disegani oleh negara-negara lain ketika itu (abad 17) diantaranya Dinasti Turki Usmani, Dinasti Umayyah II di Andalusia Spanyol, Dinasti Safawi di Persia (Iran, red). Negara yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda bernama Nanggroe Aceh Darussalam, yang beberapa waktu yang lalu menjadi nama bagi Provinsi Aceh. Kalau Aceh memiliki peradaban yang begitu tersohor di ketika itu, mengapa sekarang bahasa aceh terjun bebas begitu saja. MEMALUKAN.. mungkin itu kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan masyarakat Aceh sekarang ini, tak terkecuali penulis sendiri. Ada beberapa faktor yang memang membuat semua itu telah terjadi. Sejarah aceh yang tidak pernah jauh dari konflik yang membuat budaya aceh sudah sangat sulit dijumpai di kalangan anak-anak muda sekarang. Tapi jangan sampai hal itu menular pada penggunaan bahasa Aceh.
            Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi penulis dan bagi pembaca supaya jangan sungkan-sungkan untuk menggunakan bahasa Aceh.. semogaa.. J

Note: Memang sangat dibutuhkan toleransi dalam berbahasa di Negara Indonesia ini untuk tidak bersinggungan dengan daerah lain karena memang negara kita dianugerahi dengan berbagai macam suku dan bahasa, dan disini memang sangat dibutuhkan kejelian dan kebijaksanaan kita untuk menggunakan bahasa pemersatu, tetapi dalam lingkungan sendiri sudah sepatutnya kita melestarikan budaya dan bahasa yang telah ditinggalkan oleh indatu terdahulu. Tulisan ini tidak hanya ditujukan untuk bahasa Aceh saja, tetapi juga bahasa lainnya yang adadi Provinsi Aceh ini. 
...menyoe peunasaran, silahkeun lanjutkan ^_^

Tuesday, 31 May 2011

Chemical Engineering

Chemical Engineering.. Whaat?

           Pilihan yang sangat cocok dan realitas. Bergerak dari ilmu yang sedikit lebih dikuasai diantara ilmu eksak yang ada sewaktu SMA. Sedikit buta tentang Teknik Kimia (di salah satu Universitas Kota Banda Aceh, red), bertanya2? Seperti apa sih ini ilmu terapan?. Jujur ini adalah pilihan pribadi bertolak belakang dengan pilihan ortu yang menyarankan untuk memilih Teknik Sipil. Semester satu terlihat sangat jenuh karena seperti tidak ada tantangan, baru setelah menginjak semester II semuanya seperti berubah. Tubuh shock dengan 2 praktikum yang sedikit tidak bisa diterima oleh jalan pikir seorang anak SMA. Ah, rupanya itu baru sedikit cobaan dan belum seberapa dibandingkan dengan praktikum lain yang sedikit lebih aneh yaitu berturut-turut praktikum pada semester V dan semester VI. Sedikit kecewa dengan Praktikum semester V atau disebut juga Lab. OTK I. Kecewa? Yaa.. jelas kecewa karena nilai tidak sesuai harapan setelah semua hal dilakukan bukan karena penilaian yang objektif, namun agak berbau subjektif. Tapi ya sudahlah, toh bukan nilai yang diharapkan. Lucunya, Lab. OTK II bernasib lebih baik dengan usaha yang tidak sebaik seperti Lab sebelumnya.
                Begitulah kuliah hingga semester VI, yang masih menyisakan kebingungan dengan apa yang mau diperoleh dengan chemical engineering. Pada akhirnya, Kerja Praktek atau disingkat dengan KP atau dalam istilah Pabrik On Job Training (OJT) memberikan sedikit rasa penasaran sekaligus kepuasan. PERTAMINA adalah perusahaan BUMN yang bergerak pada pengolahan minyak yang lebih dikenal dengan Unit Pengolahan (UP) atau Refinery Unit (RU) dan ada dua lagi Unit Eksplorasi yang bergerak pada pengolahan minyak Hulu dan Unit Pemasaran. RU-III Plaju yang menjadi tempat OJT ketika itu dan Plaju ini terletak di pinggiran Kota Palembang, Sumatera Selatan. Kesan pertama, ya… terkesima dengan keadaan yang nyata di pabrik yang sebelumnya hanya membayang-bayangkan saja di alam pikiran. Walaupun sebelumnya sudah pernah melihat keadaan pabrik PT. Arun NGL dan PT. PIM karena bertindak sebagai panitia CHESA 2007, namun tidak se-impressive dibanding dengan KP.
                Kurang lebih dua bulan satu minggu waktu yang dihabiskan di Palembang dengan membawa laporan dengan Judul "Evaluasi Utilisasi Pompa 8-9 Untuk Mengelola Slops Oil di Rumah Pompa Minyak R Unit ITP Plaju". Sebenarnya ini judul agak melenceng, karena lebih kepada mesin. Tapi, apa daya itulah judul yang disarankan oleh pembimbing ketika itu seorang Process Engineer yang masih sangat muda dan dari penjelasan beliau lebih diarahkan ke Teknik Kimia. Dengan judul itu, terpaksa harus berjibaku dengan bacaan-bacaan yang berhubungan dengan pompa. Nasib baik karena membawa kumpulan Ebooks yang didapatkan dari salah seorang teman yang ia peroleh dari salah seorang dosen juga. Jenis Pompa, Kavitasi, Net Positive Suction Head, discharge dan suction pompa, sistem perpipaan, friction loss dan lain-lain, dari sebelumnya yang masih terbingung-bingung ketika pertama sekali diperoleh ketika mengambil mata kuliah OTK I menjadi lebih mengerti di saat OJT ini. Selain itu, kesan lain yang diperoleh adalah kerja di pabrik lebih menarik karena bekerja secara tim dan tau bagaimana sebenarnya dunia kerja itu. Begitulah sekelumit kesan yang masih teringat saat menulis tulisan ini.
                Jauh sebelumnya, tersimpan ketakutan yang sangat mendalam *kayak pilm horor aj, hehehe…. terhadap salah satu syarat lainnya untuk menamatkan kuliah yaitu Penelitian. Penelitian yang berjudul "Proses Gasifikasi Batubara Muda dalam Fluidized Bed Gasifier" pada awalnya berjalan lancar-lancar saja. Walaupun terkendala terhadap aksesoris peralatan yang sulit diperoleh di Banda Aceh (sebenarnya juga menyita banyak waktu hingga beberapa lama setelah KP semua aksesoris belum sepenuhnya terpenuhi, heheee). Sedikit penjelasan tentang Gasifikasi adalah salah satu proses memanfaatkan batubara sebagai bahan bakar alternatif untuk mengubahnya menjadi bahan bakar gas. Proses ini biasanya diaplikasikan sebagai proses pembangkit listrik yang memanfaatkan bahan bakar gas tersebut untuk menggerakkan turbin gas dan turbin uap sehingga membangkitkan listrik. Aceh sendiri memiliki cadangan batubara yang banyak terdapat di daerah Kaway XVI, Aceh Barat dan Nagan Raya. Jenis batubara di dua daerah ini merupakan batubara muda yang termasuk golongan lignite dan subbituminous. Saat ini (saat tulisan ini ditulis, red), di Kabupaten Nagan Raya sedang didirikan PLTU Nagan Raya yang menerapkan proses gasifikasi dengan meng-intregasi-kan dengan proses lainnya.
                Sedikit Iklan…Back to basic……heheheee
                Rupanya permasalahan yang sangat serius sehingga penelitian ini seperti jalan di tempat adalah Gas Chromatography (GC-6A) yang menjadi alat uji sampel tidak bisa dioperasikan lagi. Informasi tentang alat ini pun tidak tersedia dengan mudah, hingga sampai perwakilan Shimadzu (merk GC-6A) di Medan pun diundang untuk menyelesaikan alat ini. Tetapi berhubung alat ini telah lama tidak difungsikan dan masih terdapat kekurangan lainnya dan mereka pun tidak bisa membantu lebih banyak agar alat ini bisa berjalan sebagaimana mestinya. Satu tahun setengah waktu habis pada saat permasalahan GC belum juga terselesaikan membuat penulis kehilangan semangat yang sebelumnya berada dilangit terjun bebas ke dasar bumi. Mungkin saja, kurangnya kreatifitas dan juga masih sedikit sekali ilmu yang penulis miliki…
                Ada sedikit perubahan karakter setelah pulang KP dan selama masalah penelitian ini belum juga terselesaikan. Kata teman-teman TK ’05, sebelumnya lebih banyak diam dan ngomong yang lurus-lurus saja, terkesan polos tapi sekarang sudah banyak bicaranya, sering sekali bercanda, “udah pande”, batat dan mulai puber. Bisa saja itu benar, mungkin lebih tepatnya sebagai pelarian saja atas ketidak-kreatif-an terhadap masalah yang dialami ketika itu. Sekarang ini lumrah saja, ketika hang melanda, langsung saja kreatifitas dalam candaan meningkat tajam…hehehehee. Beberapa saat setelah ketidakjelasan penelitian itu berlalu, akhirnya muncul kabar gembira dari pembimbing penelitian. Kabar gembira itu adalah perubahan judul penelitian dengan judul yang baru “Studi Pembuatan Briket Biomassa Campuran Cangkang Sawit dan Biji Jarak”. Latar belakan penelitian ini adalah mencari bahan bakar alternatif sebagai pengganti bahan bakar cair dan gas dalam penggunaan rumah tangga, tetapi sebenarnya sangat sulit menggantikan peran kedua bahan bakar tersebut karena sangat rumit permasalahan yang terdapat pada bahan bakar padat. Yaaaa.. sedikit lebih gampang penelitian ini karena 50% progress-nya sudah selesai dikerjakan oleh mahasiswa Teknik Kimia S-2. Tidak banyak campur tangan penulis disini dengan hanya mengolah data-data yang sudah pernah dikerjakan. Penelitian ini dapat diselesaikan dalam jangka waktu tidak begitu lama. Kalau ditotalkan, sekitar 2 tahun lebih penulis menyelesaikan penelitian saja. Untuk yang satu ini, satu ungkapan yang tepat selama menyelesaikan progress  penelitian ini “banyak kesabaran yang didapat dengan semakin lamanya waktu belajar”.. hehehee, ne asli ngeless..
                Setelah itu, Tugas Akhir yang disingkat TGA atau TA sebagai ujian berikutnya. “Prarancangan Pabrik Smelter Grade Alumina dari Bauksit dengan menggunakan Proses Bayer”. Kalau sebelumnya (Penelitian dan KP) sarat dengan bidang energi dan sepertinya tidak bisa penulis pungkiri telah jatuh cinta terhadap bidang ini, tapi untuk TGA sedikit berganti haluan. Teringat penulis ketika itu (saat mencari-cari judul TGA di Pustaka), dari sekian banyak judul yang ada penulis terpukau dengan judul yang satu ini. Di halaman pendahuluan TGA seorang mahasiswa Teknik Kimia angkatan tahun 1986 (Tahun lahir penulis, hehehe), di situ tertera bahwa Alumina sangat banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti bahan baku aluminium, komponen elektronik, sebagai bahan katalis, dan banyak penggunaan lainnya serta alumina ini dibuat dari bauksit yang sangat melimpah di Pulau Bintan, Kepri. Mantaplah keyakinan penulis untuk mengambil judul ini. Segera setelah itu, penulis googling semua hal tentang alumina. Dari bacaan-bacaan yang didapatkan di internet, diperoleh informasi bahwa PT. INALUM di Asahan, Sumatera Utara menggunakan Alumina yang diimpor dari luar negeri. Spontan saja keluar gelembung – gelembung diatas kepala penulis yang di dalam gelembung itu tertera kata-kata “Tanya Kenapa??”, hehehe. Jelas sekali, Indonesia yang melimpah cadangan Bauksit di Bintan dan juga di Tayan, Kalbar, harus mengimpor alumina dari luar. Celakanya dari bacaan lainnya, bauksit yang selama ini digerus di Bintan hampir seluruhnya diekspor ke negeri China dan selanjutnya sebagian besar alumina yang dibutuhkan untuk dalam negeri diimpor dari Australia dan China. Kenapa gak dikurangi saja ekspor bauksit ke luar negeri dan mengolah limpahan bauksit ini menjadi Alumina kemudian menghasilkan aluminium yang punya harga jual lebih tinggi yang selanjutnya menambah pendapatan negara... dasarr eeedaannn!!. Walaahh, itu urusan pengambil kebijakan di negara ini, malah makin pusing lagi klo ikut-ikut mikir. Namun, akhir-akhir ini sudah ada langkah yang maju dari pemerintah untuk membangun pabrik SGA dan CGA di Kalbar melalui perusahaan BUMN PT. Aneka Tambang (PT. ANTAM Tbk.) untuk memenuhi kebutuhan alumina nasional yang akan dibangun pada tahun 2014. Semoga benar adanya, bukan hanya menghiasi atau sekedar menjadi bumbu penyedap media-media cetak atau elektronik saja.
                Supaya tidak plagiat tulen, penulis mencoba untuk mencari beberapa bagian yang dapat dimodifikasi. Alumina terbagi kapada dua yaitu smelter grade alumina (SGA) adalah alumina yang lebih kepada bahan baku pembuatan aluminium. Sedangkan chemical grade alumina (CGA) adalah alumina yang digunakan sebagai bahan baku komponen elektronik, peralatan-peralatan kesehatan, katalis dan lain-lain. Merujuk kepada TGA yang sudah ada sebelumnya (setelah ditelusuri lebih condong kepada pembuatan SGA) dan jurnal-jurnal yang diperoleh dari situs US Patent dengan modifikasi beberapa bagian proses dan juga kapasitas produksinya. Akhirnya selesai juga TGA saya (12 Oktober 2011).. :)) :).
Note: mengisi waktu luang yang banyak terbuang ketika TGA jalan di tempat, akhirnya muncul ini tulisan... hehehe… ^_^
...menyoe peunasaran, silahkeun lanjutkan ^_^

Tuesday, 26 April 2011

Lebih Bagus Dibanding dan Lebih Baik Dibanding


“Beu Careung” lebih bagus dibanding “Beuk Bangai”

       
     Keinginan menulis judul ini tak lepas karena melihat realita sehari-hari yang sebagian menganggap opini atau jalur yang dia tempuh adalah paling benar atau lebih hebat dari sebagian orang lain. Harus hati-hati dalam menyikapi hal ini. Terlihat pandai belum tentu pintar. Terlihat lincah belum tentu cerdas. Terlihat paling baik dan paling menonjol, bisa jadi tanpa disadari lebih jahat dari sampulnya.
                Ada sedikit keraguan terhadap apa yang telah diperoleh hingga detik ini. Bersekolah mulai enam tahun pertama, dilanjutkan enam tahun kedua di menengah bawah dan atas seperti belum menemukan sesuatu yang membuat hati ini tenang. Jujur saja, baru tingkatan “Beuk bangai” saja yang diperoleh hingga saat ini dan masih jauh pada posisi “Beu Careung” dan sebaiknya selalu . Berikut pengertian 2 rangkaian tanda petik yang penulis maksudkan:
“Beuk Bangai” bisa penulis artikan “sekedar tidak ditertawakan orang lain”. Ya..seperti tau cara menghidupkan komputer, cara ngantri bayar spp, atau ujung dari semua hal yang diajarkan setelah bersekolah adalah “Kiban cara ta mita peng beu lee..mak mangat udep..jeut ta blo peu yang galak..inong2 pih bagah merumpok..” (“bagaimana cara mencari uang yang banyak, supaya enak hidup, bisa belanja sesukanya, istri pun mudah dapat”). Kalau saja hal-hal yang diatas itu tidak diperoleh, pasti akan ada suara sumbang seperti: “dipekhem le ureng rame” (ditertawakan orang banyak)…”ku peu chit ka jak kuliah, meu komputer hanjeut ka pudep, pe lom menyeu ku yu mita peng”…(“untuk apa juga kuliah, komputer saja tidak bisa kamu hidupkan, apalagi kalau ku suruh cari duit”).
“Beu Careung” berarti sudah bisa menganalisa bahwa “orang pandai” itu tidaklah pintar, “orang yang terlihat bodoh” itu yang sebenarnya pintar atau tahu maksud kurang baik yang disampaikan oleh “orang yang terlihat baik” tersebut. Ya… intinya punya proses filtrasi yang baiklah dalam berpikir…dan hal itu hingga sekarang sama sekali tidak pernah penulis dapatkan dari pendidikan resmi ”sedeh dalam hati teuh” (“sedih hati ini”). Atau kalau boleh mengkritik, mental dan semangat pengajar di lembaga pendidikan yang ada dari tahun ke tahun makin semakin merosot.. Tanya Kenapa??..

Menghilangkan Energi Negatif lebih baik daripada mencari Energi Positif

                Terdapat korelasi yang kuat judul kedua ini  dengan judul pertama. Jak mita musoh daripada ta mita ngen (mencari musuh daripada mencari kawan), Le gadoh pikiran bak hal2 yang hana perle (terbuang percuma waktu pada hal2 yang sia-sia), termasuk hal-hal atau kesan yang dialami oleh penulis sekarang ini. Sangat langka kita jumpai ada orang yang berkata: ”coba luruskan niatmu, belajarlah untuk membantu sesama, hilangkan kebodohan pada diri sendiri, dan ajarkan orang lain, jika sudah hilang bodoh pada dirimu”. “nyoe koen, gadoh ta petimang mangat droe, baroe ta pike mangat gop, menyoe kana moto 3 boh teuk baroe ta pike ke gop, nyan pih menyeu mantong euk ta seumike”(malah sebaliknya, menyibukkan diri untuk memenuhi kenikmatan individu daripada kesejahteraan umum, atau kalau udah ada 3 mobil, baru kita pikir bagian orang.. itupun kalau ada keinginan) . Menurut akal sehat saya, Itu berarti berlomba-lomba untuk menindas.
                Bagi orang yang mencari “energi positif”, untuk menghilangkan kepayahan atau kepenatannya tanpa menyadari telah menindas kesejahteraan orang lain atau lebih kepada menghilangkan efek “hidup susah” bagi orang yang mencari energi positif, . Tetapi sebaliknya bagi orang yang berprinsip menghilangkan energi negatif yang berarti “pengorbanan” sehingga mau bersusah-susah demi kesejahteraan orang banyak. Inilah “jeritan hati” yang penulis rasakan dan akhirnya tertuang dalam tulisan ini dengan kesimpulan kasar “Kalau dulu kita sering diberitau, kekayaan alam pasti menipis seiring berjalannya waktu, Namun sekarang, teori itu berlaku juga untuk orang yang menduduki posisi strategis dalam tatanan bermasyarakat, pendidikan, atau pemerintahan yaitu semakin menipisnya stok manusia yang mau berpikir untuk kesejahteraan orang banyak”. Tanya Lagi Kenapa??
...menyoe peunasaran, silahkeun lanjutkan ^_^

Saturday, 12 March 2011

Cinta Padi Merunduk

Cinta Merunduk Layaknya Padi Yang Semakin Berisi

            Suatu hari seorang pemuda yang berguru pada seorang koki yang jago masak sekampung, memiliki keinginan untuk bercocok tanam padi. Maklum saja pemuda ini tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke sawah walaupun ia sendiri berasal dari daerah yang mata pencaharian penduduknya adalah menanam padi. Karena ia terlalu sibuk untuk menimba dan mendalami ilmu memasak. Ia berguru pada seorang Koki yang juga mendirikan sebuah kursus yang lumayan termasyhur di seluruh negeri. Kampung ini bernama Lazaat, yang memiliki beraneka ragam buah-buahan dan sayur-sayuran yang segar-segar dan dikenal dengan kesuburan tanahnya.
            Atas saran gurunya, ia belajar bercocok tanam pada masyarakat kampung yang telah terbiasa untuk menanam padi. Pemuda ini sebenarnya sedikit ceroboh dalam melakukan sesuatu dan ia juga sudah terlambat untuk belajar dari awal karena penduduk kampung sudah masuk ke tahap penanaman padi di lahan persawahan, sehingga ia melewatkan belajar untuk menanam benih padi dari gabah.
            Tetapi itu tidak menyurutkan semangat belajar si pemuda dan terkadang dengan semangatnya yang tinggi dapat menutupi kecerobohannya. Hari pertama, pemuda ini datang terlambat sehingga menimbulkan pandangan yang tidak baik dari penduduk. Pemuda itu menyadari hal ini, dan bertekad dapat membayar kesalahannya dengan melakukan yang maksimal di hari pertamanya itu. Pada awalnya memang sangat sulit, dan sedikit minder bila dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain yang sebaya atau lebih tua darinya yang sangat lihai dalam meletakkan benih-benih padi dalam tanah gembur. Pemuda ini terus berusaha untuk mengikuti pemuda-pemuda lainnya, berupaya benih yang ditancapkan tegak berdiri dan tidak mengembang serta mengatur jarak antar benih padi tetap berselisih sejengkal atau 15 cm. usaha si pemuda baru menunjukkan hasil setelah matahari lewat sepelanggahan atau masuk waktu dhuhur.
            Setelah istirahat sejenak dan minum beberapa teguk air, sebagian pemuda melanjutkan kembali aktivitas menanam padi dan ada juga pemuda yang beristirahat lebih lama. Melihat ada sebagian pemuda yang turun, membuat Pemuda tadi ikut turun memanfaatkan semangat yang masih tertanam dalam dirinya. Tak lama setelah mereka turun kembali ke sawah, sampai pula bekal untuk makan siang yang dibawa oleh beberapa gadis kampung. Hal ini telah menjadi tradisi desa ini bagi wanita untuk menyediakan makanan bagi pria-pria yang sedang turun ke ladang yang masih memiliki ikatan persaudaraan atau hanya sebagai tetangga.
            Melihat ada makanan yang datang, tentu saja pemuda-pemuda ini bergegas untuk mengambilnya tidak terkecuali pemuda-pemuda yang terlanjur turun ke sawah.
Dan sudah menjadi kebiasaan juga bagi pria kalau tidak bergurau atau bercanda satu sama lain. Pemuda tadi tentu saja malu untuk bercanda terhadap lawan jenis apalagi tidak memiliki ikatan persaudaraan dan baru pertama kali berada di lingkungan itu. Walaupun demikian, pemuda ini terkadang kerap melepas senyuman supaya tidak kaku terhadap orang sekitarnya.
            Disaat itu pula, sang pemuda melihat seorang wanita yang tidak banyak bercakap, santun dengan pakaian biasa saja tapi terlihat rapi membungkus tubuhnya dan sedikit bicaranya. Ketika itu, pemuda itu hanya melihatnya biasa seperti ia melihat wanita lain yang memiliki tipe seperti wanita tadi, walaupun memang paras wanita ini sedikit lebih rupawan dari wanita lainnya.
            Setelah menyantap makanan, seluruh pria tadi bergegas untuk menunaikan ibadah shalat dhuhur dan kembali untuk menyelesaikan target menanam benih untuk 2 petak sawah hari itu.
            Waktu ashar pun telah tiba. Pemuda tadi yang terlihat mulai lelah dan kelihatan lebih lelah bila dibandingkan pemuda lainnya. Maklum, pemuda ini mencurahkan seluruh tenaganya untuk belajar semahir pemuda lainnya. Dan hasilnya mulai terlihat setelah beberapa saat kumandang azan ashar terdengar. Benih padi yang sangat rapi pada beberapa bagian di petak sawah yang kedua merupakan buah kerja dari pemuda tadi, walaupun masih lambat dibandingkan pemuda lainnya.
            Hari kedua, pemuda ini datang lebih cepat agar lebih akrab dengan pemuda lainnya. Dan waktu terus berjalan, dan siangpun tiba. Sang pemuda pun melihat wanita pendiam yang kemarin ia lihat. Kali ini, tumbuh rasa tertarik pemuda ini kepada wanita itu. Pandangan yang selalu ke bawah dan tidak mudah bicara dengan orang lain apalagi dengan lawan jenis yang membuat pemuda tadi jatuh hati.
            Ketika itu pula, wanita-wanita lain berbisik-bisik menanyakan siapa gerangan pria yang terlihat asing tersebut sedari kemarin hanya senyum-senyum saja dan juga kurang banyak berbicara.
            Setelah menyantap makanan dengan lahap, sang pemuda kembali pada kegiatannya dan wanita bersiap-siap untuk bergegas pulang. Namun, beberapa saat sebelum meninggalkan persawahan, wanita-wanita ini sontak tertawa keras. Rupanya sang pemuda jatuh terduduk dalam sawah karena terpeleset menginjak tanah yang licin. Sebenarnya ia dapat menghindari tanah tersebut, karena ia berjalan dibelakang seorang pemuda yang melangkahi tanah licin tersebut. Entah sebab apa si pemuda bisa terpeleset, mungkin saja masih terbayang-bayang wanita tadi hingga tanah licinpun tidak terlihat, yang menunjukkan bahwa pemuda ini memang sedikit ceroboh.
            Dengan posisi terduduk di dalam sawah, membuat pakaian sang pemuda terutama bagian bawah telah basah kuyup dengan lumpur. Tetapi pemuda ini, tetap tersenyum lebar saja. Apalagi setelah melihat wanita pujaannya ikut tersenyum dan saat itu ia baru melihat senyuman wanita yang dari kemarin selalu diam dan kalem itu.
            Sang pemuda enggan mengungkapkan isi hatinya karena ia pun bukan pria yang mudah mengungkapkan perasaannya. Hari berganti hari hingga seluruh sawah yang menjadi tugasnya telah terisi oleh benih padi dan menunggu hingga padi bisa dipanen. Bulan berganti bulan, tetapi sang pria masih tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya.
            Hingga suatu hari, sang pria pun memberanikan diri untuk mengirimkan surat kepada wanita ini. Pemuda ini tidak menitipkan surat ini kepada orang lain, tetapi ia sisipkan di pohonan pisang diperkarangan rumah wanita tersebut. Pemuda ini nekat melakukannya, karena ia sering melihat wanita ini memotong daun pisang sebagai bahan membalut kue nagasari yang biasa ia bawa sebagai bekal. Dalam benak si pemuda berharap wanita pujaannya dapat segera mengambilnya. Apa yang pemuda ini tuliskan?
Berikut isi surat sang pemuda kepada wanita pujaannya:
Assalamu’alaikum…
Sebelumnya, abang minta maaf kalau mengganggu kesibukan adek. Baru kali ini abang beranikan diri untuk bercakap langsung sama adek melalui pesan ini. Sebenarnya abang bukan tipe yang mudah untuk  mengungkapkan sesuatu kepada orang lain. Baik itu sesuatu yang sedih maupun yang senang. Kalo saja dihampiri dua hal ini.. Senang ya senyum aj. Kalau sedih ya dipendam saja..hehee
Tapi entah kenapa, ketika melihat sosok adek dari jauh atau sekilas mata, ada rasa kagum dengan pakaian yang rapi yang adek kenakan seolah-olah mencerminkan seorang wanita yang selalu menjaga diri, agar tidak menarik nafsu lelaki dan terus terang saja punya paras yang rupawan. Selain itu, bicara yang sedikit menunjukkan ketawadhu’an.
Itu penilaian abang, sehingga abang beranikan diri.. tapi yang sebenarnya, abang jelas tidak tau..
Abang pun tau dari gerak-gerik adek, klo ada rasa kagum pada abg. Tapi entahlah, mungkin itu hanya perasaan saja. Mungkin ini unek-unek yang bisa abg ungkapkan, supaya lega batin ini. Mohon maaf sekali lagi telah mennyita waktunya. Trims :).
Waalaikum salam
Bagaimanakah kelanjutan ceritanya. Apakah surat si pemuda sampai ke tujuan atau malah tersangkut di pohon pisang atau dibawa oleh kelelawar atau diambil oleh Pak Kechiek Kampung Laazat. Atau mungkin saja bernasib sama seperti bungkusan daun pisang yang dijual di warung-warung pasar kampung lazaat sebagai bungkusan lontong atau mie ….. heheeheheheeee...
To be continued…..*Saksikan kelanjutannya di edisi berikutnya.

...menyoe peunasaran, silahkeun lanjutkan ^_^

Saturday, 19 February 2011

Mahmud Gaznawi

Dicari Seorang Pemimpin dengan Profil Seperti Ini

(Gazna, 2 November 971 M – Gazna, 30 April 1030 M).

          Sultan ke-3 Dinasti Gaznawiyah yang memerintah tahun 997 – 1030. Dinasti ini didirikan oleh kakeknya, Alptigin (tahun 941), seorang Gubernur Khurasan dalam wilayah dinasti Samanid. Mahmud gaznawi merupakan pemimpin yang terkenal dan sukses pada dinasti Gaznawiyah. Pada masa pemerintahannya, dinasti ini menjadi sebuah kerajaan paling maju dan makmur di Asia Tengah. Mahmud Gaznawi dikenal seorang yang saleh dan mempunyai komitmen yang sangat tinggi pada ilmu pengetahuan dan peradaban.
          Di bawah pimpinannya, ia berhasil mengembangkan kekuasaan Islam sampai ke India, dalam penaklukan yang berlangsung pada abad ke-11. Pada tahun 1005 ia mengalahkan raja-raja Hindu dan Punjab serta bagian bagian daerah SSind. Pada tahun 1009 ia menyerang Nagarakot dan menaklukkannya, tahun 1014 menaklukkan negeri Dawab, dan tahun 1021 menaklukkan Dataran Tinggi Kashmir. Dari arah lain ia berhasil memperluas daerahnya sampai Bukhara, Transoksania (ma wara an-nahr), tahun 1029 menguasai daerah Rayy dan Isfahan. Dalam rangkaian peperangan berikutnya Mahmud Gaznawi selama 26 tahun (1000 – 1026) telah mampu menundukkan raja-raja Punjab dan kota al-Maltan. Mahmud Gaznawi dan pasukannya menghancurkan Candi Somanat yang menimbulkan rasa takut di kalangan raja-raja India, misalnya Raja Haradata karena ketakutannya ia memeluk islam bersama 10.000 orang pengikutnya (1020). Wilayah yang dikuasai Gaznawi meliputi sebagian wilayah India (termasuk Delhi), Afghanistan, Pakistan, Iran, dan Irak.
          Pada mulanya Mahmud Gaznawi menganut Mazhab Hanafi dan, dan bersungguh-sungguh mendalami ilmu hadis dari para ulama, tetapi ia kemudian menganggap lebih sesuai pada Mazhab Syafi’i. Suatu saat ia melakukan pen-tarjih­-an antara ahli fikih dari kedua mazhab tersebut. Kemudian Mahmud Gaznawi menyuruh para Fukaha (ahli fikih) tersebut melakukan shalat di hadapannya dua rakaat sesuai dengan cara mazhab masing-masing, agar ia dapat memperhatikan dan memilih mana yang terbaik dari keduanya. Akhirnya Ia memilih mazhab Syafi’i. Mahmud Gaznawi selalu memperkuat paham ahlussunnah wal jamaah yang dianutnya dan memerangi golongan pengacau dan kelompok bid’ah yang dianggap sesat, seperti Jahmiyah dan Qaramitah.
          Perhatiannya pada ilmu pengetahuan sangat besar. Selama pemerintahannya, (997-1030), ia telah melaksanakan kegiatan-kegiatan ilmiah, diantaranya memprakarsai suatu karya besar dalam penulisan tafsir Al-Quran berdasarkan metode kiraah dengan penjelasan-penjelasan ilmu nahu dan ilmu saraf serta bersumber dari hadis-hadis yang sahih. Dalam penyelesaian karya yang penting ini, Mahmud Gaznawi mengumpulkan ulama-ulama terkenal di Sijistan dan ditugaskan sebagai penyusunnya. Penulisan tafsir ini menghabiskan biaya 20.000 dinar, membangun madrasah yang besar dan megah sebagai tempat belajar mengajar, menganjurkan kepada para ulama dan filsuf islam seperti ibnu sina, al Biruni, Abu Sahl al Masihi, Ibnu Khamar, dan Abu Nasr al-Arraq yang terhimpun dalam Majelis Ma’mun bin al-Ma’mun agar dapat mengambil manfaat dari ilmu yang mereka miliki.
          Keberhasilan Mahmud Gaznawi dalam perluasan daerah kekuasaan dan dalam bidang ilmu pengetahuan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kemampuan Mahmud Gaznawi dan para pendahulunya memilih kota Gazna yang strategis sebagai ibukota dinastinya dan basis dalam mengadakan ekspansi militer, semangat keagamaan dan jihad Mahmud Gaznawi, menurut pendapatnya berperang adalah melaksanakan dakwah Islam bagi orang-orang kafir dan penyembah berhala, keinginan memperoleh rampasan perang untuk membangun ekonomi, sementara raja-raja Hindu kaya dengan harta.
          Mahmud Gaznawi merupakan penguasa islam yang amat berpengaruh, sehingga khalifah al-Qadir bi Allah memberikan gelar kepadanya Yamin Ad-Daulah (tangan kanan pemerintah) dan Amin ad Daulah (kepercayaan pemerintah). Pada pemerintahannya, dinasti Gaznawiyah dan kota Gazna bukan hanya menjadi benteng tempat mempertahankan kekuatan perang, tetapi juga menjadi kota terindah di Asia Tengah dan tempat berkumpulnya ahli-ahli ilmu dalam segala bidang ilmu agama.
Note: diperoleh dari Ensiklopedi Islam Jilid III. Ingin sekali membaca literatur yang asli.. mudah-mudahan dapat nantinya..:)
...menyoe peunasaran, silahkeun lanjutkan ^_^

Sunday, 30 January 2011

Tips Agar Anak Bicara Lancar


Oleh: Melly Febrida
Orangtua memainkan peranan yang penting dalam mencontohkan cara berkomunikasi yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua juga dapat mengajarkan dan mengasah keterampilan anak berbicara. Berikut ini 11 tips untuk meningkatkan kemampuan anak berbicara dengan lancar:
  1. Gunakan kontak mata. Kontak mata adalah alat percakapan terbaik karena berbagai alasan. Ketika Anda mencontohkan kontak mata sementara anak berbicara, Anda berkomunikasi bahwa Anda mendengarkan. Dengan menggunakan kontak mata saat berbicara, Anda menunjukkan anak Anda bahwa melihat wajah seseorang saat mereka berbicara dan itu sangat penting. Cara terbaik untuk memperoleh kontak mata dari anak Anda adalah dengan cara Anda mencontohkan sendiri dibandingkan dengan meminta anak untuk "melihat Anda."
  2. Face-to-face. Cobalah untuk memposisikan diri Anda setingkat dengan mata anak Anda bila memungkinkan. Model ini bagus untuk kontak mata dan juga menunjukkan kedekatan spesial yang tepat ketika berbicara dengan seseorang. Selain itu, mungkin bermanfaat agar Anda mendengarkan. "Oke, sekarang aku siap untuk mendengarkan cerita mu Nak," sambil Anda berlutut untuk mendengarkan.
  3. Bicaralah dengan cara yang alami, namun santai. Tidak perlu untuk memperlambat cara bicara Anda, tapi dengan menjadikan berbicara sangat santai dapat membantu. Hal ini menyampaikan bahwa Anda tidak terburu-buru.
  4. Model "waktu berpikir". Mengizinkan periode waktu alami untuk berpikir adalah bagus untuk meningkatkan formulasi berbahasa. Contohnya: "Hmmmmm, Saya akan memilih salah satu nya".
  5. Jadilah pendengar yang baik dan tidak menyelesaikan kalimat anak Anda jika mereka terjebak. Dengan menyelesaikan kalimat untuk anak Anda, Anda tidak mendorongnya untuk sehat dalam keterampilan berbicara bebas. Anak Anda mungkin mendapatkan pesan bahwa mereka harus membiarkan seseorang berbicara ketika mereka terjebak pada sebuah kata. Biarkan anak Anda menyelesaikan sebuah kata atau cerita setelah mereka benar-benar terjebak.
  6. Biarkan anak Anda untuk menunggu hingga waktu tertentu untuk memberitahu Anda tentang sesuatu. Setelah sekolah atau di antara waktu kegiatannya, mungkin bukan waktu terbaik bagi anak Anda untuk memberitahukan tentang sesuatu. "Kau begitu bersemangat untuk memberitahu saya tentang permainan itu. Mari kita membersihkan ini terlebih dahulu dan kemudian Anda dapat memberitahu saya" .
  7. Berbicara bergantian. Mencoba untuk terlibat dalam sebuah percakapan. Biasanya sulit bagi anak yang gagap. Ajari anak memahami bagaimana mengelola beberapa percakapan dengan teman. Gunakan percakapan dengan saudara (atau salah satu atau kedua orangtua) sebagai cara untuk memperkenalkan berbicara bergantian.
  8. Gunakan pertanyaan yang lembut, seperti "Aku ingin tahu ..." Misalnya, sambil melihat buku, Anda mungkin berkata, "Wow. Lihatlah anak-anak ini bersenang-senang. Aku ingin tahu apa yang mereka cari ... ". Ini secara alami memunculkan bahasa dan percakapan, sementara pertanyaan berkali-kali dapat memiliki efek yang berbeda. "Molly, warna apa ini? Apa yang Anda sebut ini satu? Siapa ini? Kau tahu yang satu ini".
  9. Membantu untuk mengatur cerita. Membantu anak Anda mengatur cerita mereka dengan pertanyaan (siapa, di mana, apa, dll). "Saya mendengar banyak bagian yang berbeda untuk kisah ini. Mari kita mulai dari awal. Siapa yang ada dalam cerita ini? ... Di maana cerita ini? ... Oke, sekarang aku siap untuk yang lebih. Apa yang terjadi dalam cerita ini? ... "Selain itu, struktur informasi yang berlanjut dengan pernyataan yang pertama. "Oke, bagian pertama dari cerita Anda adalah .... Dan kemudian ... "
  10. Waktu khusus berbicara dengan ibu atau ayah. Ciptakan sebuah waktu di mana anak Anda mendapat waktu berbicara yang khusus. Misalnya, jika orangtua setelah kerja, gunakan waktu itu agar bisa bersantai.
  11. Kalimat Isian. Jika waktu Anda sulit diatur, Anda mungkin ingin model struktur kalimat yang benar dan meminta anak Anda memulai sebuah kalimat dengan mengisi. Misalnya, jika anak Anda terjebak pada kata, Anda mungkin berkata, "Kau sedang bermain di ..." dan biarkan anak Anda mengisi kata terakhir.
Note: Artikel ini diperoleh pertama sekali dari Tweet Tommy Tjokro Metro TV Anchor, yang diambil dari Liputan Enamdotcom... Menarik isi artikel diatas dan kalau bisa dengan bahasa yang lebih halus lagi seperti "Kau" diganti dengan nama panggilan anak, dan "Aku" diganti dengan kata "Ayah" atau "Abu"... I Like This Article. ...menyoe peunasaran, silahkeun lanjutkan ^_^

Tuesday, 21 December 2010

unek-unek

"bersusah-susah dahulu lebih bagus...karena kemudahan setelah itu....."

Terkadang sifat idealis, dapat menyusahkan diri sendiri. Tidak sedikit orang yang awalnya idealis kemudian berubah menjadi opurtunis karena pengaruh berbagai hal terutama lingkungan dan kultur pendidikan yang diperoleh. Sangat tepat bila kita menggambarkan hal tersebut di kehidupan kita sendiri. Banyak sekali atau mayoritas orang mempengaruhi keidealisan seseorang dengan berbagai faktor, misalnya: faktor ekonomi, faktor sosial dan lainnya. Sehingga terbiasalah seseorang untuk berbuat atau berpikir dengan jalan pintas yang memang untuk sementara dapat membuat orang tersebut seolah-olah telah mengatasi masalahnya, namun tersimpan luka yang mendalam bagi pihak yang lain.
Tetapi, pada hakikatnya sifat idealis itulah yang benar. Benar sekali ungkapan "berbuat baiklah kamu, maka kebaikan yang akan kembali kepadamu" atau "pria-pria yang baik akan mendapatkan wanita-wanita yang baik pula".
Jadi, bagaimana cara menjaga keidealisan tersebut agar tidak terjerumus kepada berbagai macam kecurangan..?
(jawaban menurut penulis):
salah satu penguat pondasi keidealisan adalah pendidikan yang baik yang membimbing kita untuk membuang kejahilan yang ada pada diri kita sebagai manusia (kecenderungan manusia adalah berbuat maksiat), dan membimbing kita untuk berbuat kebaikan di sekeliling lingkungan kita. Ilmu yang menuntun seseorang pada hal yang telah disebutkan adalah ilmu agama. ilmu agama yang wajib dituntut adalah ilmu Fiqah, Tasawuf dan Tauhid sebagaimana yang telah diterangkan oleh Nabi SAW.
Lembaga pendidikan yang masih alami dalam mengajarkan ilmu agama tersebut di Tanah Aceh adalah Dayah. Di Dayah pelajaran ilmu agama diajarkan semata-mata mengharapkan keridhaan dari Allah SWT. Beberapa contoh diantaranya adalah setiap "guree semeubeut" tidak mengharapkan gaji dalam mengajari kitab-kitab yang telah ditetapkan oleh kurikulum dayah yang telah bertahan lama sejak ulama-ulama terdahulu di Aceh. Para Guree ini mengajari santri-santri dengan keikhlasan. contoh lainnya, setiap memulai permualaan Kitab-kitab, Guree balee berdoa kepada pengarang kitab yang diikuti oleh santri-santri dengan menyedekahkan bacaan Al-fatihah dan Juga setelah pengajian selalu membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. (Demikianlah sedikit kelebihan-kelebihan yang telah penulis alami di Dayah, dan belum pernah penulis dapati di Lembaga-lembaga Pendidikan lain).

"Mudah-mudahan beu geubri keuh lon tuan teutap lam Dayah, Hingga puas bathin nyoe dan terhindar ulon tuan dari buet-buet maksiet dan mak terjaga sabee lon tuan beuk sampe terjerumus kepada jalan-jalan yang dapat membawaki kepada tou ngen apui neraka"...Amiiinn...
...menyoe peunasaran, silahkeun lanjutkan ^_^