Bahasa Daerah Semestinya Kita Lestarikan
Kon salah Cangguek jiduek lam paya
Kon salah rangkang bubong ka tireih
Kon salah aneuk han jitueng budaya
Salah awak mat aturan akai jih paleh
Sebagai masyarakat biasa, dapat kita lihat beberapa hal yang membuat keadaan budaya aceh bisa ambruk begini rupa. Keprihatinan yang mendalam ketika melihat keluarga-keluarga di perkotaan dan keluarga-keluarga muda baik di perkotaan dan di pedesaan tidak menggunakan lagi bahasa aceh sebagai bahasa sehari-hari. Banyak alasan yang dimunculkan, beberapa alasan utama diantaranya yaitu malu menggunakan bahasa aceh karena dianggap kuno (meugampong), tidak berpendidikan, dan terlihat kasar (khususnya kalangan wanita, malu menggunakannya karena hilang ke-ayu-annya, hehehe) atau sebab lainnya, bagi anak-anak akan kesulitan untuk bisa beradaptasi di lingkungan sekolah karena bahasa aceh bukan bahasa pengantar yang digunakan di sekolah (sebenarnya ada penggunaan bahasa aceh dalam dunia pendidikan seperti pesantren-pesantren tradisioanal yang disebut juga dengan dayah, tapi sangat sedikit peminat terhadap pendidikan seperti ini dan juga sangat kecil perhatian dari pemerintah).
Disinilah dibutuhkan antena yang panyang, jangan pakek yang second terus… hehehehee
Mau bahasa aceh punah suatu saat nanti?
Dimana letak jatidiri orang aceh?
Teringat penulis dulu, waktu jaman Siti Nurbaya dulu (ntah iya pun). Kebanyakan orang sangat janggal menggunakan pakaian yang ketat-ketat terutama bagi wanita, merasa sangat risih bila dipandang-pandang terus, berbeda dengan keadaan sekarang ini. sebaliknya dengan orang yang memakai kain sarung yang sangat nge-trend di ketika itu, tetapi terkesan kuno ketika kita lihat sekarang ini. menurut penulis semua itu adalah KEBIASAAN. Coba saja, masyarakat kita ini membiasakan pakai sarung ketika pergi ke pasar atau kemana saja, pasti tidak dianggap rancu karena sudah dibiasakan. Begitu juga dengan penggunaan bahasa, membiasakan tidak menggunakan bahasa aceh, maka akan menjadi sangat rancu di masa akan datang penggunaan bahasa aceh.
Penulis juga membuktikan ini di berbagai belahan dunia ini (seehhh, angkuh sikit). Ketika menonton sebuah film dari negara Thailand kebetulan temanya percintaan, hehehee. Kesan pertama yang muncul adalah jelek sekali bahasa Thailand ini walaupun yang bercakap-cakap adalah aktris utamanya (aktrisnya lumayan cantik lho, xixixi). Kemudian terpikir oleh kepala ini, mengapa bisa tetap dipakai ya bahasa sejelek ini (maaf ne agak rasis), dan mengapa bahasa aceh yang 100x lebih indah dari bahasa Thailand (menurut penulis), sebagian orang malu menggunakannya. Tidak lain karena tidak dibiasakan penggunaannya di tempat-tempat umum (ini bisa juga saran untuk pemerintah Aceh, misalnya tulisan-tulisan di tempat umum sebaiknya menggunakan bahasa Inggris, Indonesia dan Aceh). Jepang salah satu negara maju dan memiliki kekuatan teknologi yang besar juga tidak pernah hilang jati dirinya. Terkenal dengan merek dagang seperti Honda, Suzuki, Yamaha, Nissan dan lain-lain, toh tetap negara ini dikenal dengan negara samurai dengan kimononya, karena negara ini memiliki peradaban dunia dan masyarakat yang begitu tinggi sehingga dikenal dengan jepang sekarang ini. Bahasa mereka pun tidak berbeda jauh antara satu daerah dengan daerah lainnya dalam satu kawasan, hanya berbeda aksen saja. Bisa dikatakan negara ini memiliki mobilisasi masyarakatnya yang aktif yang membuat Jepang, satu suku dalam satu negara.
Melihat ke dalam kesatuan negara Indonesia, kita juga dapat melihat beberapa suku yang masih terletak di Sumatera seperti Padang dan Palembang. Mereka sangat bangga menggunakan bahasa daerah mereka dimanapun mereka berada. Posisi bahasa mereka sama seperti bahasa Aceh juga yang tidak memiliki huruf atau penulisan yang baku seperti negara-negara Jepang, India, Thailand, dll. Tapi kedua daerah ini tetap bangga dengan bahasa mereka.
Bahasa Inggris, Mandarin (Cantonis), Arab, India, Spanyol berturut-turut merupakan bahasa global yang paling banyak digunakan di dunia. Tidak mengherankan bahasa-bahasa ini begitu mendunia karena memang negara-negaranya memiliki catatan sejarah peradaban yang fenomenal dan dikenal begitu banyak tokoh yang berpengaruh terhadap peradaban itu sendiri. Nah, timbul pertanyaan lain, apakah masyarakat aceh tidak punya sejarah peradaban atau tidak punya tokoh seperti itu?.. tentu saja ada, Sultan Iskandar Muda yang merupakan pemimpin sebuah negara islam yang begitu disegani oleh negara-negara lain ketika itu (abad 17) diantaranya Dinasti Turki Usmani, Dinasti Umayyah II di Andalusia Spanyol, Dinasti Safawi di Persia (Iran, red). Negara yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda bernama Nanggroe Aceh Darussalam, yang beberapa waktu yang lalu menjadi nama bagi Provinsi Aceh. Kalau Aceh memiliki peradaban yang begitu tersohor di ketika itu, mengapa sekarang bahasa aceh terjun bebas begitu saja. MEMALUKAN.. mungkin itu kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan masyarakat Aceh sekarang ini, tak terkecuali penulis sendiri. Ada beberapa faktor yang memang membuat semua itu telah terjadi. Sejarah aceh yang tidak pernah jauh dari konflik yang membuat budaya aceh sudah sangat sulit dijumpai di kalangan anak-anak muda sekarang. Tapi jangan sampai hal itu menular pada penggunaan bahasa Aceh.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi penulis dan bagi pembaca supaya jangan sungkan-sungkan untuk menggunakan bahasa Aceh.. semogaa.. J
Note: Memang sangat dibutuhkan toleransi dalam berbahasa di Negara Indonesia ini untuk tidak bersinggungan dengan daerah lain karena memang negara kita dianugerahi dengan berbagai macam suku dan bahasa, dan disini memang sangat dibutuhkan kejelian dan kebijaksanaan kita untuk menggunakan bahasa pemersatu, tetapi dalam lingkungan sendiri sudah sepatutnya kita melestarikan budaya dan bahasa yang telah ditinggalkan oleh indatu terdahulu. Tulisan ini tidak hanya ditujukan untuk bahasa Aceh saja, tetapi juga bahasa lainnya yang adadi Provinsi Aceh ini.





