“Beu Careung” lebih bagus dibanding “Beuk Bangai”
Keinginan menulis judul ini tak lepas karena melihat realita sehari-hari yang sebagian menganggap opini atau jalur yang dia tempuh adalah paling benar atau lebih hebat dari sebagian orang lain. Harus hati-hati dalam menyikapi hal ini. Terlihat pandai belum tentu pintar. Terlihat lincah belum tentu cerdas. Terlihat paling baik dan paling menonjol, bisa jadi tanpa disadari lebih jahat dari sampulnya.
Ada sedikit keraguan terhadap apa yang telah diperoleh hingga detik ini. Bersekolah mulai enam tahun pertama, dilanjutkan enam tahun kedua di menengah bawah dan atas seperti belum menemukan sesuatu yang membuat hati ini tenang. Jujur saja, baru tingkatan “Beuk bangai” saja yang diperoleh hingga saat ini dan masih jauh pada posisi “Beu Careung” dan sebaiknya selalu . Berikut pengertian 2 rangkaian tanda petik yang penulis maksudkan:
“Beuk Bangai” bisa penulis artikan “sekedar tidak ditertawakan orang lain”. Ya..seperti tau cara menghidupkan komputer, cara ngantri bayar spp, atau ujung dari semua hal yang diajarkan setelah bersekolah adalah “Kiban cara ta mita peng beu lee..mak mangat udep..jeut ta blo peu yang galak..inong2 pih bagah merumpok..” (“bagaimana cara mencari uang yang banyak, supaya enak hidup, bisa belanja sesukanya, istri pun mudah dapat”). Kalau saja hal-hal yang diatas itu tidak diperoleh, pasti akan ada suara sumbang seperti: “dipekhem le ureng rame” (ditertawakan orang banyak)…”ku peu chit ka jak kuliah, meu komputer hanjeut ka pudep, pe lom menyeu ku yu mita peng”…(“untuk apa juga kuliah, komputer saja tidak bisa kamu hidupkan, apalagi kalau ku suruh cari duit”).
“Beu Careung” berarti sudah bisa menganalisa bahwa “orang pandai” itu tidaklah pintar, “orang yang terlihat bodoh” itu yang sebenarnya pintar atau tahu maksud kurang baik yang disampaikan oleh “orang yang terlihat baik” tersebut. Ya… intinya punya proses filtrasi yang baiklah dalam berpikir…dan hal itu hingga sekarang sama sekali tidak pernah penulis dapatkan dari pendidikan resmi ”sedeh dalam hati teuh” (“sedih hati ini”). Atau kalau boleh mengkritik, mental dan semangat pengajar di lembaga pendidikan yang ada dari tahun ke tahun makin semakin merosot.. Tanya Kenapa??..
Menghilangkan Energi Negatif lebih baik daripada mencari Energi Positif
Terdapat korelasi yang kuat judul kedua ini dengan judul pertama. Jak mita musoh daripada ta mita ngen (mencari musuh daripada mencari kawan), Le gadoh pikiran bak hal2 yang hana perle (terbuang percuma waktu pada hal2 yang sia-sia), termasuk hal-hal atau kesan yang dialami oleh penulis sekarang ini. Sangat langka kita jumpai ada orang yang berkata: ”coba luruskan niatmu, belajarlah untuk membantu sesama, hilangkan kebodohan pada diri sendiri, dan ajarkan orang lain, jika sudah hilang bodoh pada dirimu”. “nyoe koen, gadoh ta petimang mangat droe, baroe ta pike mangat gop, menyoe kana moto 3 boh teuk baroe ta pike ke gop, nyan pih menyeu mantong euk ta seumike”(malah sebaliknya, menyibukkan diri untuk memenuhi kenikmatan individu daripada kesejahteraan umum, atau kalau udah ada 3 mobil, baru kita pikir bagian orang.. itupun kalau ada keinginan) . Menurut akal sehat saya, Itu berarti berlomba-lomba untuk menindas.
Bagi orang yang mencari “energi positif”, untuk menghilangkan kepayahan atau kepenatannya tanpa menyadari telah menindas kesejahteraan orang lain atau lebih kepada menghilangkan efek “hidup susah” bagi orang yang mencari energi positif, . Tetapi sebaliknya bagi orang yang berprinsip menghilangkan energi negatif yang berarti “pengorbanan” sehingga mau bersusah-susah demi kesejahteraan orang banyak. Inilah “jeritan hati” yang penulis rasakan dan akhirnya tertuang dalam tulisan ini dengan kesimpulan kasar “Kalau dulu kita sering diberitau, kekayaan alam pasti menipis seiring berjalannya waktu, Namun sekarang, teori itu berlaku juga untuk orang yang menduduki posisi strategis dalam tatanan bermasyarakat, pendidikan, atau pemerintahan yaitu semakin menipisnya stok manusia yang mau berpikir untuk kesejahteraan orang banyak”. Tanya Lagi Kenapa??
No comments:
Post a Comment